*AJARAN SOSIAL GEREJA*
*EVANGELII NUNTIANDI*
*EN 045-048*
Menggunakan media massa
45. Abad kita ditandai dengan media massa atau sarana-sarana komunikasi sosial, dan pewartaan yang pertama, katekese atau
pendalaman iman lebih lanjut tak dapat dilakukan tanpa menggunakan media-media ini, seperti yang telah kami tekankan. Bila alat-alat ini digunakan untuk melayani Injil, alat-alat tadi dapat memperluas wilayah di mana Sabda Allah dapat didengar, hampir tanpa batas. Juga alat-alat tadi dapat menyebabkan Kabar Baik menjangkau jutaan manusia. Gereja akan merasa bersalah di hadirat Tuhan jika ia tidak memanfaatkan sarana-sarana yang ampuh ini, yang dari hari ke hari semakin disempurnakan oleh keterampilan manusia. Melalui alat-alat tadi Gereja mewartakan “dari atas atap-atap rumah” pesan yang diserahkan kepada Gereja untuk dijaga. Di dalam alat-alat tadi Gereja menemukan penjabaran secara modern dan efektif mimbar. Berkat alat-alat ini Gereja berhasil berbicara kepada banyak orang.
Meskipun begitu pemakaian alat-alat komunikasi sosial untuk evangalisasi menimbulkan suatu tantangan. Melalui alat-alat
tadi pesan Injil akan menjangkau sejumlah besar orang, tapi dengan kemampuan menembus hati nurani setiap individu, menanamkan dalam hatinya seolah-olah dia sendirilah satu-satunya orang yang disapa, dengan segala sifat-sifatnya yang paling individu dan pribadi, dan membangkitkan ketaatan dan keterlibatan pribadi.
Kontak pribadi yang tak dapat tidak harus ada
46. Oleh karena alasan inilah, maka berdampingan atau di samping pewartaan Injil yang bersifat kolektif, bentuk penyampaian yang lain, dari pribadi ke pribadi, tetap sah dan penting. Tuhan kerap kali menggunakan hal itu (misalnya dengan Nikodemus, Zakeus, wanita Samaria, Simon orang Farisi), dan demikian pula yang dilakukan oleh para Rasul. Dalam jangka jauh, masih adakah jalan lain untuk menyampaikan Injil daripada menyampaikan kepada orang lain pengalaman iman seseorang?
Tak bolehlah terjadi bahwa kebutuhan yang mendesak untuk mewartakan Kabar Baik kepada banyak orang akan menyebabkan
kita melalaikan bentuk pewartaan ini, di mana suara hati pribadi seseorang dijangkau dan disentuh oleh perkataan yang sepenuhnya
unik, yang diterimanya dari sesorang lain. Kita tidak akan pernah dapat memuji dengan secukupnya para imam yang melalui
sakramen pengakuan dosa atau melalui percakapan pastoral, memperlihatkan kesediaan mereka untuk membimbing umat seturut cara-cara Injil. Mereka membantu umat di dalam usaha-usahanya, membangkitkan umat bila mereka jatuh, dan selalu membantu umat dengan kemampuan untuk membeda-bedakan
dan kesediaan untuk menolong.
Peranan Sakramen-sakramen
47. Namun tidak pernahlah cukup hanya menekankan bahwa evangelisasi tidak hanya terdiri dari khotbah dan mengajarkan suatu doktrin. Karena evangelisasi harus menyentuh kehidupan: kehidupan kodrati, yang diberi suatu arti yang baru, berkat perspektif-perspektif Injil yang diwahyukannya.
Hidup adikodrati, bukan merupakan penyangkalan tapi pemurnian dan
pengangkatan hidup kodrati. Hidup adikodrati ini menemukan ungkapannya yang hidup dalam tujuh sakramen dan di dalam pancaran rahmat yang mengagumkan dan kesucian yang dimiliki sakramen-sakramen.
Demikianlah evangelisasi melaksanakan kemampuannya sepenuh-penuhnya bila menghasilkan hubungan yang amat akrab atau lebih baik suatu komunikasi timbal-balik dan tetap, antara Sabda dan sakramen-sakramen. Dalam arti tertentu kelirulah mempertentangkan antara evangelisasi dan penerimaan sakramen-
sakramen, seperti yang kadang-kadang terjadi. Memang betullah bahwa cara tertentu dalam melayani sakramen-sakramen, tanpa dukungan yang kuat dari katekese mengenai sakramen-sakramen dan suatu katekese yang global, dapat berakhir dengan merampas dari umat efektivitas, penerimaan sakramen-sakramen. Peranan evangelisasi justru mendidik orang-orang di dalam iman sedemikian rupa, sehingga membimbing tiap-tiap individu kristen untuk menghayati Sakramen-sakramen sebagai sakramen-sakramen iman–dan bukannya untuk menerima sakramen-sakramen secara pasif tapi untuk berpatisipasi di dalam penerimaan sakramen-sakramen.
Kesalehan yang merakyat
48. Di sini kita menyentuh salah satu segi evangelisasi yang tak boleh menyebabkan kita tidak peka. Kami ingin bicara mengenai suatu hal yang pada zaman sekarang ini kerapkali disebutlah “religiositas yang merakyat”.
Kita menemukan di antara umat ungkapan-ungkapan khusus dalam mencari Allah dan mencari iman, baik di dalam wilayah-wilayah di mana Gereja telah didirikan selama berabad-
abad maupun di daerah di mana Gereja sedang dibangun. Ungkapan-ungkapan ini cukup lama dianggap kurang murni dan kadang-kadang diremehkan, tapi pada zaman sekarang ini, hal ini
hampir di mana-mana ditemukan kembali. Selama Sinode tahun 1974 para Uskup mempelajari maknanya dengan semangat dan
realisme pastoral yang mengagumkan.
“Religiositas yang merakyat” tentu saja mempunyai batas-batasnya. Kerap kali disusupi oleh banyak penyimpangan dalam agama dan bahkan takhyul. Kerap kali hal ini hanya pada tingkat bentuk-bentuk ibadat, tidak melibatkan penerimaan yang sejati berdasarkan iman. Bahkan bisa menyebabkan timbulnya sekte-
sekte dan membahayakan jemaat gerejani yang sejati.
Tetapi bila religiositas tadi diarahkan dengan baik, lebih-lebih dengan pedagogi evangelisasi, kaya dalam nilai-nilai. Religiositas ini menampakkan kehausan terhadap Allah, yang
hanya dapat dikenal oleh orang sederhana dan miskin. Ia juga membuat orang-orang mampu bersikap murah dan rela berkorban bahkan bersikap sebagai pahlawan, bila menyangkut soal menampakkan iman. Religiositas yang merakyat juga menyebabkan adanya kesadaran yang tajam terhadap sifat-sifat Allah yang mendalam: Kebapaan, Penyelenggaraan Ilahi, Kasih dan Kehadiran-Nya yang terus menerus. Juga hal itu melahirkan sikap-sikap batin, yang jarang-jarang nampak di tempat yang lain, dalam
kadar atau tingkat yang sama: kesabaran, kesadaran akan adanya Salib dalam hidup sehari-hari, sikap lepas bebas, keterbukaan
terhadap orang lain, devosi. Oleh karena segi-segi tadi, maka kami dengan senang hati menyebutnya “kesalehan yang merakyat” yaitu
agama rakyat, umat, dan bukannya religiositas, perasaan keagamaan.
Cinta kasih pastoral haruslah menjadi pegangan semua orang, yang oleh Tuhan telah diangkat menjadi pemimpin-pemimpin jemaat-jemaat gerejani agar mempunyai sikap yang tepat dalam menghadapi kenyataan ini, yang begitu kaya namun juga begitu mudah tercemari. Lebih-lebih kita harus peka terhadapnya, tahu bagaimanakah menangkap dimensi-dimensinya yang mendalam dan nilai-nilainya yang tak dapat disangkal, bersedia membantunya untuk mengatasi bahaya-bahaya penyelewengan. Bila kesalehan yang merakyat tadi diarahkan dengan baik, maka dapat semakin merupakan suatu pertemuan yang sejati Allah dalam Yesus Kristus bagi kebanyakan umat kita.
